Saring Berita Hoaks dengan 3 Aplikasi Ini, Buatan Indonesia

Saring Berita Hoaks dengan 3 Aplikasi Ini, Buatan Indonesia

Saring Berita Hoaks dengan 3 Aplikasi Ini, Buatan Indonesia – Berita hoaks memang dapat merugikan satu pihak atau bahkan satu kelompok. Untuk itu pemerintah berusaha membuat undang-undang ITE yang berfungsi mencegah penyebaran berita hoaks. Masyarakat Indonesia yang juga melek dengan kondisi ini, membantu pemerintah dengan membuat aplikasi pendeteksi berita hoaks. Berikut aplikasi penangkal hoaks buatan orang Indonesia:

Saring Berita Hoaks dengan 3 Aplikasi Ini, Buatan Indonesia

Baca Juga: Tips Cara Menghindari Berita Hoaks

1. Hoax Buster Tool

Komunitas asal Yogyakarta yang bernama Komunitas Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) meluncurkan aplikasi penangkal hoaks bernama Hoax Buster Tool (HBT). Cara cek berita hoaks di aplikasi ini juga cukup mudah, yaitu pengguna hanya menyalin suatu berita yang ingin dilihat ke dalam search di tool Google. Mafindo sendiri telah lama bekerja sama dengan Google untuk menyukseskan proses peluncuran aplikasi pendeteksi berita hoaks HBT ini. Semua halaman sudah dilakukan verifikasi sehingga aman dari berita hoaks.

Baca Juga: Dampak Negatif Berita Hoaks Bagi Remaja

2. Anti Hoax

Sesuai dengan namanya, aplikasi ini menjadi solusi terbaik sebagai penangkal hoaks. Peluncuran aplikasi ini tidak lain untuk meminimalisasi adanya berita hoaks dan sebagai pengaduan bagi masyarakat Indonesia yang mengetahui jika ada berita palsu. Selain itu, Anti Hoax juga memiliki tujuan untuk mencegah adanya perpecahan antar masyarakat akibat adanya berita hoaks. Kamu bisa langsung mengunduhnya di Google Store atau AppStore gadget-mu.

Baca Juga: Cara Mudah Belanja Produk Hinet Di Shopee

3. Kec-Hoax

Aplikasi pendeteksi berita hoaks yang wajib kamu coba selanjutnya adalah Kec-Hoax. Awal mulanga aplikasi ini berisi pertanyaan yang bersumber dari www.thenewliteracyproject.org. Aplikasi ini akan memberikan 17 pertanyaan kepada penggunanya yang diambil dari 10 pertanyaan pendeteksi konten hoax. Jika hasil dari presentasi tersebut negatif maka bisa dipastikan bahwa berita yang diperoleh adalah Hoaks.

Cara praktis lainnya untuk mengidentifikasi berita hoaks adalah dengan melihat sumber beritanya. Biasanya berita-berita dari institusi media yang terdaftar di Dewan Pers seperti detik.com, kompas.com, dan metrotv.com dianggap memberikan berita terpercaya. Kalau Hinet Lovers ingin menikmati serunya internetan yang murahnya anti hoaks, kamu bisa pakai Paket Internet Unlimited dari Hinet. Untuk mulai internetan murah unlimited yang awet sebulan, kamu bisa cek di sini >>> Hinet Internet Cepat 4G LTE

Comments (2)

  1. by : P Suardana February 28, 2020 at 9:45 pm

    Baguslah cerdaskan bangsa

    Reply
  2. by : hamida April 13, 2021 at 10:04 am

    BAB I
    PENDAHULUAN
    Pada bab ini, penelitian akan memaparkan (a), latar belakang (b), batasan masalah (c), rumusan masalah (d), tujuan penelitian (e), manfaat penelitian (f), penelitian terdahulu (g), sistematika pembahasan. Paparan selanjutnya akan disajikan sebagai berikut:
    A. Latar Belakang
    Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sangat penting dilingkungan sekitar kita. Terdapat beberapa patokan yang menyebabkan bahasa menjadi penting, seperti jumlah penutur, luas penyebaran, serta peranannya sebagai sarana ilmu, seni sastra, dan pengungkapan budaya.
    Berbahasa juga merupakan manusiawi, yakni kegiatan yang setiap saat dilakukan manusia dan hanya manusia yang mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan dirinya. Dengan melalui bahasa, manusia mampu mengembangkan budaya, membangun peradapan, dan mengubah atau bahkan melestarikan lingkungan untuk kepentingan hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa sangat berperan penting dalam kehidupan manusia, sehingga mereka sadar bahwa mereka merupakan makhluk yang membutuhkan komunikasi dan juga bersosialisasi, maka dari itu menggunakan bahasa yang baik dan benar itu sangat penting dalam berkomunikasi.
    Manusia juga merupakan makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berintraksi dan berkomunikasi dengan manusia lainnya. Secara sederhana, komunikasi dapat diartikan sebagai pertukaran informasi dengan satu sama lain. Sedangkan komunikasi yang paling efektif digunakan adalah bahasa. Dengan media bahasa kita dapat berkomunikasi dengan manusia yang berada di penjuru dunia, termasuk dikawasan pondok pesantren, komunikasi juga termasuk hubungan manusiawi. Dengan demikian, dalam berkomunikasi kita harus memperhatikan tuturan yang dikeluarkan, sebagai penutur harus memperhatikan intonasi tuturan yang akan disampaikan. Jika seorang penutur tidak memperhatikan intonasi dan bentuk kata tanya yang dituturkan, maka mitra tutur akan kesulitan untuk memahaminya, karena kalimat yang diujarkan tidak sesuai dengan intonasi dan bentuk tuturannya. Dalam berbahasa berdasarkan mudusnya, kalimat dapat dibedakan menjadi dua yakni: kalimat berita dan kalimat tanya (interogatif). Semua kalimat tersebut adakalanya digunakan sesuai dengan fungsinya dan ada pula yang tidak sesuai dengan bentuk kata tanya, fenomina tersebut sering terjadi dilingkungan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Putri Ganjaran Gondanglegi Malang.
    Tindak tutur adalah tuturan dari seseorang yang bersifat psikologi yang dapat dilihat dari makna tindakan dalam tuturannya itu. Serangkaian tindak tutur akan membentuk sebuah pristiwa tutur (speec event). Setiap tuturan dalam wawancara atau percakapan, yang disampaikan penutur (penulis) kepada mitra tutur atau pembaca mempunyai makna atau tujuan tertentu. Dengan semua kalimat yang dituturkan tersebut mempunyai intonasi dan fungsi masing-masing.
    Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian tutur sebuah ucapan atau perkataan yang diucapkan oleh seseorang, sedangkan pertuturan merupakan suatu perbuatan atau suatu tuturan yang menyatakan keadaan psikologis pembicara karena suatu perbuatan yang dilakukan dalam menuturkan sesuatu. Dan tuturan sendiri mempunyai arti sesuatu dituturkan atau diucapkan sendiri.
    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tuturan merupakan kalimat yang telah diujarkan oleh penutur untuk menyampaikan maksud yang dituju, sedangkan tuturan yang dikeluarkan oleh penutur merupakan bentuk komunikasi lisan yang dituturkan oleh penutur kepada mitra tutur dalam kehidupannya.
    Kalimat merupakan satuan bahasa yang terdiri atas klausa, Ramlan mengatakan bahwa kalimat merupakan satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya nada akhir turun maupun naik, kalimat dibentuk dari kata sehingga menjadi frasa dan setalah frasa baru menjadi klausa. Setelah menjadi klausa baru bisa terbentuk menjadi suatu kalimat. Setiap kalimat itu mengandung dua bagian yang saling mengisi. Dan bagian yang saling mengisi itu harus dapat memberikan pengetian yang dapat diterima, serta selalu ada yang dikemukaan yang diikuti oleh bagian yang menerangkan atau mengemukakan, bagian yang dikemukakan dalam bahasa itu terdiri dari subjek sedangkan bagian yang menerangkan itu disebut predikat.
    Begitupun dengan bahasa yang digunakan oleh semua manusia, khususnya bagi santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Putri dalam menutukan kalimat interogatif, harus benar-benar memperhatikan intonasi dan kata tanya yang sesuai dengan apa yang ditanyakan. Jika kalimat yang dituturkan tidak sesuai dengan intonasi dan bentuk yang ditanyakan nya, maka mitra tutur akan kesulitan dalam memahami tuturannya. Terkadang seseorang menuturkan kalimat pertanyaan (interogatif) tetapi menjadi kalimat pernyataan dan ada pula ketika menanyakan tidak memakai kata tanya yang sesuai dengan apa yang ditanyakan. Sama halnya dengan santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 dalam menuturkan kalimat interogatif. Namun intonasinya bukan intonasi interogatif, melainkan pernyataan dan dalam menanyakan kalimat yang dituturkan tidak memakai kata tanya pada awal kalimat sehingga mitra tutur begitu sulit dalam memahami tuturannya tersebut.
    Kalimat interogatif merupakan kalimat yang mengandung maksud menanyakan sesuatu kepada mitra tutur. Kalimat interogatif dibagi menjadi dua, yakni (1) kalimat interogatif total dan (2) kalimat interogatif parsial. Kalimat interogatif total adalah kalimat yang bermaksud untuk menanyakan semua informasi yang terdapat di dalam pertanyaan. Kalimat interogatif parsial merupakan kalimat yang terkandung dalam pertanyaan.

    Kedua kalimat ini sering dugunakan oleh santri putri Pondok Pesanren Raudlatul Ulum 1. Hal inilah yang menjadi alasan penulis memilih judul “Analisis Tuturan Kalimat Interogatif Pada Santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Putru Ganjaran Gondanglegi Malang”.
    Kajian mengenai tuturan kalimat interogatif ini bagaimana cara penutur mengatur apa yang ingin dituturkan adalah masuk pada kajian sintaksis. Nordquis mengatakan bahwa Sintaksis merupakan cabang dari ilmu yang membicarakan tentang struktur kalimat. Sedangkan menurut Varhaar, sintaksis adalah sebagai cabang tata bahasa yang membahas tentang hubungan antarkata dalam tuturan.
    Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sintaksis merupakan studi tentang hubunga antarkata yang satu dengan kata yang lain, atau masalah hubungan antarkata yang membentuk struktur kalimat. bagaimana kata-kata secara bersama-sama membentuk sebuah frasa dan klausa sehingga menjadi sebuah kalimat.
    Dari fenomena di atas, bahwa intonasi dan bentuk tuturan kalimat interogatif yang dituturkan oleh pengurus dengan santri di lingkungan pondok pesantren sangat menarik dan penting untuk diteliti. Fenomena yang menarik dalam penelitian ini adalah dilingkungan pondok pesantren dengan kultur yang berbeda serta bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi antara santri, kiyai, nyai, dan pengurus juga berbeda. Namun dalam penelitian intonasi tuturan kalimat interogatif di sini peneliti lebih mengfokuskan kepada tuturan antara pengurus dengan santri, yang sering salah dalam menggunakan intonasi tuturan kalimat interogatif, seperti “sudah sholat jamaah” tuturan kalimat ini pengurus menanyakan kepada santrinya untuk mengetahui apakah sudah sholat jama’ah atau tidak, namun dalam intonasi ia tidak menggunakan intonasi kalimat interogatif, sehingga santri tidak paham karena dalam tuturannya tersebut mengandung intonasi kalimat pernyataan. Padahal dalam menuturkan sebuah kalimat harus disertai dengan intonasi yang sesuai dengan apa yang dimaksud, karena setiap jenis kalimat tentunya mempunya intonasi masing-masing.
    Pemilihan penelitian “Analisis Tuturan Kalimat Interogatif Pada Santri ini”. Karena kebanyakan santri dalam penuturannya tidak sesuai dengan intonasin dan bentuk tuturan kata tanya, sehingga mitra tutur kesulitan dalam memahami ujaran penutur tersebut. Serta dalam penelitian ini bisa memberikan manfaat bagi semua pembaca mengenai tuturan kalimat interogatif yang benar.
    Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Analisis Tuturan Kalimat Interogatif Pada Santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Putri Ganjaran Gondanglegi Malang”.
    B. Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
    1. Bagaimana tuturan kalimat interogatif total pada Santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 putri Ganjaran Gondanglegi Malang?
    2. Bagaimana tuturan kalimat interogatif parsial pada Santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 putri Ganjaran Gondanglegi Malang?
    C. Tujuan Penelitian
    Dalam penelitian ini penulis berharap dapat mencapai tujuan yakni:
    1. Untuk mendeskripsikan tuturan kalimat interogatif total pada Santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 putri Ganjaran Gondanglegi Malang.
    2. Untuk mendeskripsikan tuturan kalimat interogatif parsial pada Santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 putri Ganjaran Gondanglegi Malang.
    D. Manfaat Penelitan
    Manfaat yang diperoleh dari suatu penelitian adalah menggambarkan nilai-nilai dan kualitas penelitian. Adapun pe nelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara tepritis, maupun praktis.
    1. Manfaat Teoritis
    a. Secara teoritis, hasil penelitian dapat memberika manfaat dalam pengembangan bahasa, khususnya mengenai intonasi tuturan kalimat interogatif dalam bahasa Indonesia.
    b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai pengimplikasian intonasi tuturan kalimat interogatif terhadap pembelajaran bahasa Indonesia.
    2. Manfaat Praktis
    a. Bagi peneliti lain
    Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan rujukan dan dapat menambah pengetahuan tentang ilmu bahasa, khususnya padantuturan kalimat interogatif. Serta dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pengembangan penelitian.
    b. Bagi santri
    Dapat meningkatkan semangat dan bisa menjadi motivasi untuk memperhatikan tuturan kalimat interogatif, sehingga akan muncul kesadaran untuk menuturkan kalimat interogatif yang benar.
    c. Bagi mahasiswa
    Menjadi bahan acuan bagi seluruh mahasiswa khususnya mahasiswa tadris bahasa Indonesia Institut Agama Islam Al-Qolam Malang, untuk lebih memperhatikan dalam menggunakan tuturan kalimat interogatif.
    E. Penelitian Terdahulu
    Penelitian terdahulu merupakan kajian kritis terhadap hasil-hasil penelitian yang terbit sebelumnya. Khususnya dalam kajian pragmatik tentang tuturan kalimat interogatif. Beberapa penelitian terdahulu yang menjadi referensi bagi peneliti untuk menyusun penelitian yang akan dilakukan, adalah sebagai berikut:
    Pertama, Samirotul Azizah, dalam penelitiannya yang berjudul “Pola Intonasi Kalimat Interogatif dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Marharah Al-Kalam (Studi Kasus Analisis pada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Uneversitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta) skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola intonasi kalimat deklaratif dan kalimat interogatif yang dituturkan mahasiswa pendidikan bahasa arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa mengimplikasikan intonasi tuturan kalimat interogatif ini, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun ajaran 2016/2017 dapat dijadikan pola intonasi yang ideal yang diterapkan untuk modus kalimat interogatif.
    Penelitian di atas berbeda dengan penelitian yang hendak dilakukan oleh penulis. Dalam penelitian sebelumnya berfokus pada upaya untuk mengetahui penggunaan pola intonasi kalimat interogatif. Sedangkan penulis lebih fokus pada intonasi tuturan kalimat interogatif total dan parsial. Penelitian sebelumnya melakukan penelitian pola intonasi tuturan kalimat interogatif dan implikasinya terhadap pembelajaran Maharah Al-Kalam (studi analisis pada mahasiswa pendidikan bahasa arap Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta), sedangkan penulis melakukan penelitian untuk mengetahui tuturan kalimat interogatif pada santri pondok pesantren Raudlatul Ulum 1 putri Ganjaran Gondanglegi Malang. Persamaannya dalam penelitian sebelumnya dengan penelitian penulis adalah sama-sama menganalisis Intonasi kalimat Interogatif.
    Kedua, Anisa Ema Ratna Hapsari, dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Bentuk Kalimat Tanya pada Novel dalam Mihrab Cinta Karya Habiburrahman EL Shirazy” skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kalimat tanya pada novel. Hasil penelitian tersebut dapat menemukan bentuk dan pola kalimat tanya dalam novel Mihrab Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Pada bentuk kalimat tanya di dalam novel tersebut dapat diketahui pada menambahkan kata tanya ataupun (kah).
    Penelitian di atas berbeda dengan penelitian penulis. Perbedaannya adalah, dalam penelitian berfokus pada analisis bentuk dan pola kalimat tanya pada novel, maka penulis melakukan penelitian tentang analisis tuturan kalimat interogatif pada santri pondok pesantren Raudlatul Ulum 1 putri Ganjaran Gondanglegi Malang. Persamaan penelitia sebelumnya dengan penelitia penulis adalah sama-sama menganalisis kalimat tanya (interogatif).
    Ketiga, Mei Hastuti, dalam penelitiannya berjudul “Analisis Kalimat Tanya pada Wacana Cerita Anak dalam Koran Kompas Edisi Bulan Oktober. s.d. November 2012. Skripsi ini bertujuan mendeskripsikan wujud kalimat tanya dan mengklafikasikan jenis kalimat tanya pada wacana Cerita Anak dalam Koran Kompas edisi bulan Oktober s.d November 2012. Hasil penelitian tersebut menemukan bentuk kalimat tanya yang menggunakan pengakuan ya/tidak, dan dalam pengklafikasiannya jenis kalimat tanya pada wacana cerita anak dalam Koran kompas edisi Oktober s.d. November 2012 ditemukan tiga jenis kalimat tanya yaitu, kalimat tanya biasa, kalimat tanya retoris, dan kalimat tanya yang senilai dengan perintah atau kalimat tanya tersamar.
    Penelitian di atas berbeda dengan penelitian yang hendak dilakukan penulis. Perbedaannya adalah, penelitiannya sebelumnya fokus pada analisis wujud kalimat tanya dan mengklafikasikan jenis kalimat tanya pada wacana cerita anak dalam Koran kompas edisi bulan Oktober s.d. November 2012, sedangkan penulis akan mendeskripsikan tuturan kalimat interogatif total dan persial pada santri Pondok Pesantren Raudlatu Ulum 1 putri Ganjaran Gondanglegi Malang. Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian penulis adalah sama-sama menganalisis kalimat tanya (interogatif).

    Tabl 1.1 : Penelitian Terdahulu
    No Peneliti dan Tahun Terbit Judul Persamaan Perbedaan
    1 Samirotul Azizah (2019) Pola Intonasi Kalimat Interogatif dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Maharah Al-Kalam (Studi Analisis pada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta) Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama menganalisis intonasi tuturan kalimat interogatif Perbedaan yang dilakukan peneliti fokus pada intonasi tuturan kalimat interogatif total dan persial pada santri putri dengan pengurus
    2 Anssa Erma Ratna Hapsari (2013) Analisis Bentuk Kalimat Tanya pada Novel dalam Mihrab Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama mengkaji kalimat tanya (interogatif) Peneliti tersebut meneliti bentuk kalimat tanya pada novel dalam mihrab cinta karya Habiburrahman El Shirazi. Sedangkan peneliti lebih fokus pada intonasi tuturan kalimat interogatif total dan persial pada santri putri dengan pengurus
    3 Mei Hastuti (2013) Analisis Kalimat Tanya (interogatif) pada wacana cerita anak dalam Koran kompas edisi bulan Oktober s.d Noveber 2012 Persamaan dalam penelitian ini sama-sama mengkaji kalimat tany (interogatif) studi pustaka Perbedaan penelitian dengan peneliti adalah peneliti sebelumnya menganalisis kalimat tanya pada wacana cerita anak dalam Koran kompas edisi bulan Oktober s.d November2012. Sedangkan peneliti fokus pada analisis intonasi tuturan kalimat interogatif total dan persial pada santri dengan pengurus

    F. Sistematika Pembahasan
    Dalam penulisan ini memiliki sistematika pembahasan sebagai berikut:
    BAB I: Dalam bab ini membahasa pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan penelitian terdahulu.
    BAB II: Menjelaskan tentang kajian teori yang meliputi: pengertian bahasa, pengertian intonasi, pengertian kalimat interogatif, pembagian kalimat interogatif, tindak tutur, jenis-jenis tindak tutur, pragmatik.
    BAB III: Berisi tentang metode penelitian yang meliputi: metode penelitian, pendekatan dalam penelitian, sumber data, instreumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, pengecekan keabsahan data.
    BAB IV: Yaitu, berisi tentang paparan data dan analisis penggunaan intonasi tuturan kalimat interogatif pada santri pondok pesantren Raudlatul Ulum 1 Putri Ganjaran Gondanglegi Malang.
    BAB V: Yakni penutup: yang berisi tentang kesimpulan yang menjawab rumusan masalah dan berisi saran-saran bagi pembaca dan peneliti selanjutnya.

    Reply

Leave a Reply to P Suardana Cancel

* Your email address will not be published.